KEKUASAAN ADALAH AMANAT DARI ALLAH




KEKUASAAN ADALAH AMANAT DARI ALLAH

Kemerdekaan mempunyai makna yang luas, artinya bahwa bangsa Indonesia memiliki kebebasan untuk mengatur sendiri berbagai, segi kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk kehidupan politik, ekonomi, sosial dan sebagainya. Kalau pada masa penjajahan belanda umat Islam diatur oleh bangsa lain, sejak tahun 1945, semua diatur oleh umat Islam sendiri dengan leluasa. Tak ada lagi pembatasan untuk mengamalkan apa yang diyakini dalam hati.

Bagi umat Islam, apa makna kemerdekaan ditinjau dari sudut syariat? Kemerdekaan adalah salah satu nikmat yang diberikan Allah SWT. Nikmat itu hendaklah dipandang sebagai suatu amanat atau titipan dari Allah SWT kepada kita. karena itu Al-Qur'an dalam surat An-Nisa ayat 58 mengingatkan:

"Allah memerintahkan kamu menyampaikan amanat kepada yang layak menerimanya. Apabila kamu mengadili diantara manusia, bertindaklah dengan adil, Sungguh Allah mengajar kamu dengan sebaik-baiknya, karena Allah Maha Mendengar, Maha Melihat"

Kalau ada diantara kita yang memegang amanat, dalam bentuk kekuasaan, atau kewenangan; apakah sebagai lurah,camat, bupati, gubernur, atau jabatan lain, maka semua itu hakikatnya memegang amanah yang harus disampaikan kepada yang berhak.

Dalam arti yang lebih luas, kemerdekaan itu amanah yang diberikan Allah sebagai karunia-Nya kepada segenap manusia sebagai individu dn sebagai warga negara RI. Karena itu, adalah menjadi kewajiban untuk memelihara kemerdekaan ini dengan cara sebaik-baiknya. Dengan demikian, inilah makna kita pandai menyukuri nikmat dari Allah dalam bentuk kemerdekaan. Dalam Al-Qur'an surat Ibrahim ayat 7 disebutkan:

Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: "Jika kamu bersyukur, Aku akan memberi tambahan (karunia) kepadamu; tetapi jika kamu tidak bersyukur, sungguh adzab-Ku dasyat sekali"

Maksud ayat diatas, memerintahkan manusia agar pandai menyukuri nikmat Allah; antara lain nikma0t kemerdekaan. Artinya mensyukuri nikmat disini bukan hanya mengucapkan lafadh 'alhamdulillah' seperti biasa diucapkan, tapi harus menggunakan nikmat itu sesuai perintah-Nya. Kemerdekaan harus digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup bangsa Indonesia baik spirritual maupun material.

Sebagai disebutkan dalam ayat tadi, arti kufur nikamt dapat dipahami; orang yang mendapat karunia Allah, tapi menggunakn nikmat itu tidak sesuai dengan jalan yang diperintahkan-Nya. Dengan kata lain, telah menyimpang dari ajaran Allah SWT, atau menyalahgunakan nikmat.

Peran umat Islam dalam bernegara adalah menjalankan prinsip-prinsip yang dijalankan Al-Qur'an, yaitu prinsip Islam dalam bermasyarakat dan bernegara. Prinsip-prinsip tersebut dapat disimak dalam surat An-Nisa ayat 59:

"Hai orang-orang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasulullah dan mereka yang memegang kekuasaan diantara kamu. Jika kamu berselisih mengenai sesuatu kembalikanlah kepada Allah dan Rosul-Nya, kalau kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Itulah yang terbaik dan penyelesaian yang tepat."

"Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah," yaitu menjalankan perintah Allah yang telah diwahyukan-Nya melalui Al-qur'an. "Taatlah pula kepada Rosulullah saw, yang telah membimbing kita melalui ajaran-ajaranya", yang disebut sunah Rosulullah, adalah yang merupakan penjelasan terhadap Al-Qur'an. "Dan kepada orang-orang yang berwenang di antara kamu", artinya umat Islam wajib taat kepada kalangan kita yang kebetulan memegang otoritas baik dalam bidang pemerintahan maupun dalam bidang lain.

Tetapi prinsip ketaatan dalam Islam ini bersifat tanpa reserve. Artinya, pemimpin itu harus ditaati hanya selama dia menjalankan perintah Allah. Kalau dalam menjalankan kekuasaanya tidak cocok dengan perintah Allah dan Rosul-Nya, tidk ada keharusan untuk taat kepadanya. Dalam haditsnya, Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya ketaatan itu dalam hal-hal yamg ma'ruf (baik)".

Kalau kita diminta, baik langsung ataupun tidak langsung untuk bersikap taat dalam hal-hal yang munkarat, maka tidak harus menaatinya. Bahkan wajib melawnya, sebagai bukti penentangan.

Kecuali hal di atas, tugas umat Islam sangat penting adalah mengentaskan kemiskinan, terutama dikalangan umat Islam sendiri. Ajaran Islam telah menawarkan berbagai konsep pengentasan kemiskinan dan konsep itu saya namakan lembaga-lembaga sosial Islam. Yang sudah dikenal adalah: zakat, infaq, shodaqoh, wakaf, wasiat, qurban dan aqiqah. Semua lembaga itu mengajarkan agar seluruh umat Islam berperan serta mengentaskan kemiskinan, Salah satu pesan Al-Qur'an surat Adz-Dzariyat ayat 19: "Dan dlam harta mereka (selalu ingat) akan hak (orang miskin) yang meminta, dan yang (karena suatu alasan) tak mau meminta".

Jadi inilah yang dimaksud Zakat. Zakat sebenarnya adalah hak bagi orang miskin. Kemudian infaq dan shodaqoh, dan sebagainya adalh merupakan hal yang sangat dianjurkan. Itulah beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagi perwujudan sikap syukur kepada Allah yang telah menganugerahkan nikmat yang tiada ternilai harganya untuk umat Islam Indonesia, yaitu kemerdekaan.

Oleh:

Prof. Dr. H.M. Tahir Azhari, S.H.

Oleh :

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

0 komentar

KEKUATAN DALAM KETENANGAN

KEKUATAN DALAM KETENANGAN

Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi
petunjuk orang-orang yang taubat kepada-Nya. Yaitu orang-orang yang
beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah.
Sadarilah hanya dengan mengingat Allah hati akan tenang. (Ar-Ra’d: 27-28).

Ayat di atas dipetik dari surat Ar-Ra’d yang berarti guruh. Disebut
surat Ar-Ra’d karena ada bagian yang menyinggung tentang guruh, yakni
pada ayat ke-13 yang berbunyi, Dan guruh itu bertasbih sambil memuji
Allah. Ayat ini memberi pelajaran kepada manusia bahwa guruh pun
bertasbih, apalagi semestinya manusia.

Sedangkan ayat ke-27 dan 28 yang tertera di atas menjelaskan bahwa
Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) akan memberi petunjuk dan bimbingan kepada
orang-orang yang bertaubat kepada-Nya. Artinya, orang-orang yang sadar
lalu kembali ke jalan Allah; orang-orang yang telah menyesali
perbuatan-perbuatan tercela yang pernah dilakukannya.

Dijelaskan dalam ayat ke-28 bahwa, “Yaitu orang-orang yang beriman.”
Artinya, dengan bertaubat itu berarti kembali memasuki kancah
keberimanan atau kembali melakukan kewajiban-kewajiban sebagai orang
beriman. Hal tersebut dibuktikan dengan banyak mengingat Allah sehingga
tidak mudah lagi terpeleset dari jalan petunjuk. Dalam keadaan demikian
itu, jiwanya menjadi tenang dan tenteram, karena memang ada jaminan
dalam lanjutan ayat itu bahwa, “Dengan banyak mengingat Allah hati akan
tenteram.”

Orang yang telah melalui proses ini yaitu menyongsong gerbang taubat
dan memasuki istana iman--lalu memanfaatkan kondisi tersebut untuk
selalu mengingat Allah, maka itulah orang yang telah mendapat
kebahagiaan yang tiada bandingannya. Apalagi dalam kondisi seperti
sekarang ini, ketenangan jiwa sungguh sangat mahal harganya. Bukankah
disekitar kita sekarang penuh dengan hal-hal yang memproduksi
kegelisahan,kecemasan, keputusasaan, keraguan, duka cita, dan lain sebagainya?
Kalau kita tidak memiliki ketenangan jiwa, tidak memiliki pegangan kuat, dan
tidak mempunyai pandangan, niscaya mudah terombang-ambing.

Ketenangan jiwa membuat orang dapat hidup tenang. Inilah yang sangat
diperlukan pada situasi seperti sekarang, di tengah-tengah gelombang
kehidupan yang serba tidak menentu. Apalagi bagi seorang pemimpin yang
bercita-cita mewujudkan kecerah-ceriaan masa depan bagi negeri yang
sedang terpuruk ini. Hanya orang yang memiliki ketenangan jiwa yang
dibalut oleh iman dan dzikrullah yang dapat berpikir tenang;
berpandangan jitu, dan mampu membuat program yang mengenai sasaran
untuk kepentingan manusia dan kemanusiaan.

Sekarang ini kita bukannya miskin manusia intelek, tetapi ibu-ibu di
negeri ini tidak subur rahimnya untuk melahirkan insan-insan yang
memiliki jiwa dan pikiran tenang. Yaitu insan yang tidak terkontaminasi
dengan virus kegelisahan, kecemasan, keputusasaan, dan keraguan.

Hendaknya secuil ketenangan jiwa yang telah kita peroleh bisa
senantiasa dipelihara, kita pupuk dengan shalat, shiyam, baik yang fardhu atau
yang sunnah, infaq, dzikir, dan tadabbur (telaah) Al-Qur'an. Insya Allah
semua itu akan menghidupkan hati, menenangkan jiwa, membuka pikiran,
dan meluruskan langkah. Lebih jauh dari itu, akan mengantar kita agar dapat
terhindar dari kesulitan di akhirat, yang sekaligus akan mempermudah
kita dalam urusan dunia ini.

Sekarang ini kita tidak mengharapkan lahirnya pakar manajemen yang
telah menghabiskan separoh umurnya belajar dari satu negara ke negara yang
lain, namun kering dari nilai-nilai wahyu. Tapi yang diharapkan adalah
yang tercerahkan dengan wahyu dan kaya dengan bahan perbandingan.

Kita bisa belajar dari sejarah. Kaisar Romawi, Heraclius, beberapa saat
setelah pasukannya dipukul mundur oleh tentara Muslim, dia bertanya
kepada pembesar-pembesarnya, “Kabarkanlah kepadaku tentang kaum
Muslimin yang memerangi kalian itu. Bukankah mereka juga manusia seperti
kalian?”

Pembesarnya menjawab, “Benar.”

Kaisar bertanya lagi, “Lalu mana yang lebih banyak jumlahnya, kalian
atau mereka?”

Para pembesar menjawab, “Jumlah kami lebih banyak.”

Kaisar melanjutkan pertanyaannya, “Kenapa kalian bisa kalah?”

Seorang tua di kalangan pembesar menjawab, “Karena tentara Islam shalat
di malam hari dan berpuasa di siang hari, mereka menepati janji,
melaksanakan amar ma'ruf dan nahi munkar, saling membagi, tidak saling
mementingkan diri. Yang menyebabkan kita kalah karena kita gemar minum
khamr, berzina, suka melakukan yang haram, terbiasa melanggar janji,
mudah marah, berbuat zhalim, memerintah dengan kekerasan, mencegah dari
hal yang diridhai Allah, dan kita banyak berbuat kerusakan di muka bumi
ini.”

Kaisar Heraclius berkata, “Lewat keteranganmu ini membuat aku yakin
bahwa kita memang pantas dikalahkan oleh mereka, dan mereka akan
merebut dan menguasai tempat berpijak kedua telapak kakiku ini.”

Kita dapat melihat bahwa kemenangan yang dicapai ummat Islam bukan
hanya dengan mengandalkan persenjataan yang lengkap dan jumlah personil yang
banyak, tapi terletak pada ketaatan dan kepatuhan berpegang teguh pada
ajaran yang dianutnya. Dalam kondisi genting pun tetap menjaga moral
dan mematuhi norma-norma yang telah digariskan untuknya. Mereka memiliki
ketenangan jiwa dan pikiran jernih, baik panglima perangnya ataupun
perajurit-prajuritnya. Mereka mampu menahan diri melihat lawannya
berpesta khamar dan melampiaskan nafsu seksnya. Kaum Muslimin sadar
bahwa dalam ketenangan dan pengendalian dirilah terletak potensi maha
raksasa untuk mencapai kemenangan.
Wallahu a’lam.* (Manshur Salbu/Hidayatullah) 
 

0 komentar

KEKUATAN SEBUAH DO'A








KEKUATAN SEBUAH DO'A

"Ya Allah, jangan kembalikan aku ke keluargakau, dan limpahkanlah kepadaku kesyahidan."

Doa itu keluar dari mulut `Amru bin Jamuh, ketika ia bersiap-siap mengenakan baju perang dan bermaksud berangkat bersama kaum Muslimin ke medan Uhud. Ini adalah kali pertama bagi `Amru terjun ke medan perang, karena dia kakinya pincang. Di dalam Al-Quran disebutkan: "Tiada dosa atas orang-orang buta, atas orang-orang pincang dan atas orang sakit untuk tidak ikut berperang." (Qs Al-Fath:17)

Karena kepincangannya itu maka `Amru tidak wajib ikut berperang, di samping keempat anaknya telah pergi ke medan perang. Tidak seorangpun menduga `Amru dengan keadaannya yang seperti itu akan memanggul senjata dan bergabung dengan kaum Muslimin lainnya untuk berperang.

Sebenarnya, kaumnya telah mencegah dia dengan mengatakan: "Sadarilah hai `Amru, bahwa engkau pincang. Tak usahlah ikut berperang bersama Nabi saw."

Namun `Amru menjawab: "Mereka semua pergi ke surga, apakah aku harus duduk-duduk bersama kalian?"

Meski `Amru berkeras, kaumnya tetap mencegahnya pergi ke medan perang. Karena itu `Amru kemudian menghadap Rasulullah Saw dan berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah. Kaumku mencegahku pergi berperang bersama Tuan. Demi Allah, aku ingin menginjak surga dengan kakiku yang pincang ini."

"Engkau dimaafkan. Berperang tidak wajib atas dirimu." Kata Nabi mengingatkan.

"Aku tahu itu, wahai Rasulullah. Tetapi aku ingin berangkat ke sana." Kata `Amru tetap berkeras.

Melihat semangat yang begitu kuat, Rasulullah kemudian bersabda kepada kaum `Amru: "Biarlah dia pergi. Semoga Allah menganugerahkan kesyahidan kepadanya."

Dengan terpincang-pincang `Amru akhirnya ikut juga berperang di barisan depan bersama seorang anaknya. Mereka berperang dengan gagah berani, seakan-akan berteriak: "Aku mendambakan surga, aku mendambakan mati: sampai akhirnya ajal menemui mereka.

Setelah perang usai, kaum wanita yang ikut ke medan perang semuanya pulang. Di antara mereka adalah "Aisyah. Di tengah perjalanan pulang itu `Aisyah melihat Hindun, istri `Amru bin Jamuh sedang menuntun unta ke arah Madinah. `Aisyah bertanya: "Bagaimana beritanya?"

"Baik-baik , Rasulullah selamat Musibah yang ada ringan-ringan saja. Sedang orang-orang kafir pulang dengan kemarahan, "jawab Hindun.

"Mayat siapakah di atas unta itu?"
"Saudaraku, anakku dan suamiku."
"Akan dibawa ke mana?"
"Akan dikubur di Madinah."

Setelah itu Hindun melanjutkan perjalanan sambil menuntun untanya ke arah Madinah. Namun untanya berjalan terseot-seot lalu merebah.

"Barangkali terlalu berat," kata `Aisyah.
"Tidak. Unta ini kuat sekali. Mungkin ada sebab lain." Jawab Hindun.

Ia kemudian memukul unta tersebut sampai berdiri dan berjalan kembali, namun binatang itu berjalan dengan cepat ke arah Uhud dan lagi-lagi merebah ketika di belokkan ke arah Madinah. Menyaksikan pemandangan aneh itu, Hindun kemudian menghadap kepada Rasulullah dan menyampaikan peristiwa yang dialaminya: "Hai Rasulullah. Jasad saudaraku, anakku dan suamiku akan kubawa dengan unta ini untuk dikuburkan di Madinah. Tapi binatang ini tak mau berjalan bahkan berbalik ke Uhud dengan cepat."

Rasulullah berkata kepada Hindun: "Sungguh unta ini sangat kuat. Apakah suamimu tidak berkata apa-apa ketika hendak ke Uhud?"

"Benar ya Rasulullah. Ketika hendak berangkat dia menghadap ke kiblat dan berdoa: "Ya Allah, janganlah Engkau kembalikan aku ke keluargaku dan limpahkanlah kepadaku kesyahidan."

"Karena itulah unta ini tidak mau berangkat ke Medinah. Allah SWT tidak mau mengembalikan jasad ini ke Madinah" kata beliau lagi.

"Sesungguhnya diantara kamu sekalian ada orang-orang jika berdoa kepada Allah benar-benar dikabulkan. Diantara mereka itu adalah suamimu, `Amru bin Jumuh," sambung Nabi.

Setelah itu Rasulullah memerintahkan agar ketiga jasad itu dikuburkan di Uhud. Selanjutnya beliau berkata kepada Hindun: "Mereka akan bertemu di surga. `Amru bin Jumuh, suamimu; Khulad, anakmu; dan Abdullah, saudaramu."

"Ya Rasulullah. Doakan aku agar Allah mengumpulkan aku bersama mereka,: kata Hindun memohon kepada Nabi.

0 komentar

KEUTAMAAN MEMBACA ALQUR'AN

KEUTAMAAN MEMBACA ALQUR'AN

Dari Abu Musa Al-Asy`arit berkata, Rasulullah bersabda: "Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur`an bagaikan buah limau baunya harum dan rasanya lezat. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al Qur`an bagaikan kurma, rasanya lezat dan tidak berbau. Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al Qur`an bagaikan buah raihanah yang baunya harum dan rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al Qur`an bagaikan buah hanzholah tidak berbau dan rasanya pahit." Muttafaqun `Alaihi.

Merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim untuk selalu berinteraksi aktif dengan Al Qur`an, dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi, berpikir dan bertindak. Membaca Al Qur`an merupakan langkah pertama dalam berinteraksi dengannya, dan untuk mengairahkan serta menghidupkan kembali kegairahan kita dalam membaca Al Qur`an, kami sampaikan beberapa keutamaan membaca Al Qur`an sebagai berikut :

1. Manusia yang terbaik.
Dari `Utsman bin `Affan, dari Nabi bersabda : "Sebaik-baik kalian yaitu orang yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya." H.R. Bukhari.

2. Dikumpulkan bersama para Malaikat.
Dari `Aisyah Radhiyallahu `Anha berkata, Rasulullah bersabda : "Orang yang membaca Al Qur`an dan ia mahir dalam membacanya maka ia akan dikumpulkan bersama para Malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al Qur`an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat (belum fasih) dalam membacanya, maka ia akan mendapat dua ganjaran." Muttafaqun `Alaihi.

3. Sebagai syafa`at di Hari Kiamat.
Dari Abu Umamah Al Bahili t berkata, saya telah mendengar Rasulullah bersabda : "Bacalah Al Qur`an !, maka sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafaat bagi ahlinya (yaitu orang yang membaca, mempelajari dan mengamalkannya)." H.R. Muslim.

4. Kenikmatan tiada tara
Dari Ibnu `Umar t, dari Nabi bersabda : "Tidak boleh seorang menginginkan apa yang dimiliki orang lain kecuali dalam dua hal; (Pertama) seorang yang diberi oleh Allah kepandaian tentang Al Qur`an maka dia mengimplementasikan (melaksanakan)nya sepanjang hari dan malam. Dan seorang yang diberi oleh Allah kekayaan harta maka dia infakkan sepanjang hari dan malam." Muttafaqun `Alaihi.

5. Ladang pahala.
Dari Abdullah bin Mas`ud t berkata, Rasulullah e : "Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an) maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan akan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan "Alif lam mim" itu satu huruf, tetapi "Alif" itu satu huruf, "Lam" itu satu huruf dan "Mim" itu satu huruf." H.R. At Tirmidzi dan berkata : "Hadits hasan shahih".

6. Kedua orang tuanya mendapatkan mahkota surga
Dari Muadz bin Anas t, bahwa Rasulullah e bersabda : "Barangsiapa yang membaca Al Qur`an dan mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya, Allah akan mengenakan mahkota kepada kedua orangtuanya pada Hari Kiamat kelak. (Dimana) cahayanya lebih terang dari pada cahaya matahari di dunia. Maka kamu tidak akan menduga bahwa ganjaran itu disebabkan dengan amalan yang seperti ini. " H.R. Abu Daud.

KEMBALI KEPADA AL QUR`AN

Bukti empirik di lapangan terlihat dengan sangat jelas bahwa kaum muslimin pada saat ini telah jauh dari Al Qur`an Al Karim yang merupakan petunjuknya dalam mengarungi bahtera kehidupannya (The Way of Life). Firman Allah I :
Berkatalah Rasul:"Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Qur'an ini sesuatu yang tidak diacuhkan". (QS. 25:30)

Dan mereka (para musuh Islam) berusaha keras untuk menjauhkan kaum muslimin secara personal maupun kelompok dari sumber utama kekuatannya yaitu Al Qur`an Al Karim. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Al Qur`an Al Karim mengenai target rahasia mereka dalam memerangi kaum muslimin dalam firman-Nya :
Dan orang-orang yang kafir berkata:"Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan al-Qur'an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka). (QS. 41:26)

Jal Daston selaku perdana menteri Inggris mengemukakan : "Selagi Al Qur`an masih di tangan umat Islam, Eropa tidak akan dapat mengusai negara-negara Timur." (Lihat buku "Rencana Penghapusan Islam dan Pembantaian Kaum Muslimin di Abad Modern" oleh Nabil Bin Abdurrahman Al Mahisy / 13).
Jauhnya umat terhadap Al Qur`an Al Karim merupakan suatu masalah besar yang sangat fundamental dalam tubuh kaum muslimin. Perkara untuk mempedomi petunjuk Allah I melalui kitab-Nya, bukan sekedar perbuatan sunnah atau suatu pilihan. Firman Allah I :
Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata. (QS. 33:36)

Tegasnya, menjadikan kitab Allah Subhanahu wa Ta`ala sebagai sumber petunjuk satu-satunya dalam kehidupan dan mengembalikan segala masalah hanya kepada-Nya merupakan suatu keharusan oleh setiap diri kita. Kita sama-sama bersepakat bahwa dalam menanggulangi masalah kerusakan sebuah pesawat terbang, kita harus memanggil seorang insinyur yang membuat pesawat itu, dan kita sama-sama bersepakat bahwa seorang pilot yang akan mengoperasionalkan suatu pesawat terbang harus mengikuti buku petunjuk oprasional pesawat yang dikeluarkan dari perusahaan yang memproduksinya. Tetapi mengapa kita tidak mau menerapkan prinsip ini dalam diri kita sendiri. Allah I lah yang menciptakan kita dan hanya petunjuk-Nya yang benar. Sedang kita mengetahui bahwa pegangan yang mantap dan pengarahan yang benar hanyalah :
Katakanlah:"Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)". (QS. 2:120)

Ringkas dan tegas. Petunjuk Allah I itulah petunjuk. Selain dari itu bukan petunjuk. Tidak bertele-tele, tidak ada helah, tidak dapat ditukar. Rasulullah e bersabda :
"Sesungguhnya Allah mengangkat beberapa kaum dengan Kitab (Al Qur`an) ini dan menghinakan yang lain dengannya pula." H.R. Muslim.
Karena itu jangan sampai kita mengikuti hawa nafsu mereka yang menyimpang dari garis yang tegas ini :
Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. 2:120)

Ringkasnya, ketika umat Islam telah jauh dari Kitabullah, maka musibah dan malapetaka serta segala jenis penyakit hati akan datang silih berganti, sebagaimana yang saat ini kita lihat sendiri secara kasat mata.

Kita berdoa kepada Allah I, semoga Dia I mengerakkan hati dan memudahkan langkah kita dan umat Islam lainnya untuk kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Nabinya e sehingga menjadi umat yang terbaik sebagaimana firman-Nya I :
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. 3:110)

Oleh : Muh. Khairuddin Rendusara.

0 komentar

Dunia Binatang


jerapah merupakan hewan yang berasal dari Afrika
jerapah memiliki leher yang panjang utuk memungkinkan memakan pucuk dari pohon.


  burung ini memiliki nama Elang jebrik sesuai dengan bulunya yang berdiri:)





kodok merupakan binatang yang bisa hidup di 2 alam
 penyu merupakan binatang laut yang tersebar di penjuru negara






Burung yang 1 ini bukan hanya indah dari segi warna tapi juga memiliki kelebihan dalam kicauannya yang indah.



Burung Elang adalah termasuk burung pemburu dan penguasa di udara

1 komentar

Belajar Ilmu Tajwid 9







Belajar Ilmu Tajwid 9 : Waqof

Akhirnya kita belajar tentang Waqof (pemberhentian). Adapun yang akan kita bahas disini adalah macam macam waqof dan tanda tandanya.

A. Macam Macam Waqof

1. Tamm (sempurna)

الوقف التام

Yaitu waqof yang dilakukan pada suatu kata dalam suatu bacaan al-qur’an sedangkan kata tersebut tidak ada hubungannya dengan kata yang selanjutnya.

Contohnya dalam surat Al-Baqoroh ayat 7

وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ . وَ مِنَ النَّاسِ …

2. Hasan (baik)

الوقف الحسن

Yaitu waqof yang dilakukan pada suatu kata dalam suatu bacaan al-qur’an tetapi kata tersebut ada hubungannya dengan kata yang selanjutnya.

Contohnya dalam surat Al-Fatihah ayat 7

أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ . غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ …

3. Kafin (cukup)

الوقف الكافي

Yaitu waqof yang dilakukan pada suatu kata dalam bacaan al-qur’an sedangkan kata tersebut tidak ada hubungannya dengan kata yang selanjutnya dari segi ucapan tetapi mempunyai hubungan dari segi arti.

Contohnya dalam surat An-Nisa’ ayat 23

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ . وَبَنَاتُكُمْ …

4. Sholih (sah)

الوقف الصالح

Yaitu waqof yang sah dilakukan pada suatu kata dalam suatu bacaan al-qur’an yang menerangkan kata setelahnya.

Contohnya dalam surat Al-Baqoroh ayat 61

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَ الْمَسْكَنَةُ . وَ بَاؤُوْ …

5. Qobih (buruk)

الوقف القبيح

Yaitu waqof yang dilakukan pada suatu kata dalam suatu bacaan al-qur’an sedangkan kata tersebut tidak terikat setelah lengkapnya perkataan dan kadang kadang berhubungan dengan kata yang selanjutnya.

Contohnya dalam surat Al-Fatihah ayat 4

مَالِكِ . يَوْمِ الدِّيْنِ …

6. Jaiz (boleh)

الوقف الجائز

Yaitu waqof yang dilakukan pada suatu kata dalam bacaan al-qur’an selain waqof waqof yang ada diatas.

Contohnya dalam surat Hud ayat 88

وَ مَا تَوْفِيْقِيْ إِلاَّ بِا للَّهِ . عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ …

B. Tanda Tanda Waqof

Tanda tanda waqof itu banyak macamnya dan ada perbedaan antara al-qur’an yang satu dengan yang lain.

Tetapi tanda tanda waqof yang paling dikenal banyak orang adalah sebagai berikut :

م

Tanda ini artinya wajib berhenti.

لا

Tanda ini artinya tidak boleh berhenti.

ج

Tanda ini artinya boleh berhenti dan boleh tidak.

صلى

Tanda ini artinya lebih diutamakan untuk meneruskan walaupun berhenti juga diperbolehkan.

قلى

Tanda ini artinya lebih diutamakan untuk berhenti walaupun diteruskan juga diperbolehkan.

0 komentar

Belajar Ilmu Tajwid 8







Belajar Ilmu Tajwid 8 : Hukum Ro’

Hukum yang ada pada huruf Ro’ ada 3 macam yaitu :

A. Tafkhim (tebal)

تَفْخِيْم

Ro’ Tafkhim  terdapat pada beberapa hal yaitu :

1. Ro’ yang berharokat fathah.

Contoh :

رَسُوْلٌ

2. Ro’ yang berharokat Dhommah.

Contoh :

رُزِقْنَا

3. Ro’ sukun yang didahului oleh huruf yang berharokat Fathah.

Contoh :

مَرْضِيَّةٌ

4. Ro’ sukun yang didahului oleh huruf yang berharokat Dhommah.

Contoh :

تُرْحَمُوْنَ

5. Ro’ sukun yang didahului oleh huruf yang berharokat Kasroh sedangkan kasroh tersebut tidak asli.

Contoh :

اِرْجِعِيْ

6. Ro’ sukun yang didahului oleh huruf yang berharokat Kasroh sedangkan kasroh tersebut asli tetapi setelah Ro’ terdapat salah satu dari huruf ISTI’LA’.

HURUF ISTI’LA’ :

Isti’la’ disebut juga Irtifa’ (tinggi) atau Tsiqol (sulit). Karena sulit dikeluarkan.

Yaitu huruf hijaiyyah yang cara membacanya seperti huruf “O” pada abjad Indonesia.

Huruf huruf Isti’la’ tersebut ialah :

{   خ  ص  ض  غ  ط  ق  ظ   }

Contoh  dari hukum Ro’ ini :

مِرْصَادٌ

فِرْقَةٌ

قِرْطَاسٌ

B. Tarqiq (tipis)

تَرْقِيْق

Ro’ Tarqiq  terdapat pada beberapa hal yaitu :

1. Ro’ yang berharokat Kasroh.

Contoh :

وَ أَرِنَا

2. Ro’ yang terletak setelah Ya’ sukun.

Contoh :

قَدِيْرٌ

3. Ro’ sukun yang didahului oleh huruf yang berharokat Kasroh sedangkan kasroh tersebut asli tetapi setelah Ro’ tidak terdapat huruf ISTI’LA’.

Contoh :

فِرْعَوْنَ

C. Boleh Keduanya (Tafkhim atau Tarqiq)

جَوَاز الْوَجْهَيْن

Ro’ yang boleh dibaca Tafkhim atau Tarqiq adalah Ro’ sukun yang didahului oleh huruf yang berharokat Kasroh tetapi setelah Ro’ terdapat huruf ISTI’LA’ yang berharokat Kasroh.

Contoh :

مِنْ عِرْضِهِ

بِحِرْصٍ


0 komentar
 
Remaja Risna Ciputat © 2012 | Designed by Canvas Art, in collaboration with Business Listings , Radio stations and Corporate Office Headquarters